Pertemuan pembuka membangun fondasi konseptual kursus melalui lensa sejarah dan kebijakan. Peserta memahami bagaimana ekonomi kreatif muncul sebagai respons terhadap pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas. Dari konsep asali John Howkins dalam "The Creative Economy" (2001), perkembangan Creative Industries UK, hingga Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kemenparekraf Indonesia — peserta membangun panorama lengkap ekraf sebagai sistem.
Indonesia memiliki salah satu kekayaan budaya paling beragam di dunia — namun potensi ini belum sepenuhnya dikonversi menjadi nilai ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Pertemuan ini membahas konsep cultural capital as business asset: bagaimana identitas lokal, tradisi, dan kearifan dapat menjadi sumber diferensiasi bisnis yang autentik dan tahan kompetisi. Sekaligus mengkritisi bahaya cultural appropriation vs. cultural appreciation dalam praktik bisnis.
Pendidikan bisnis konvensional dirancang untuk ekonomi industri. Ekraf membutuhkan pedagogi yang berbeda: satu yang menghargai ambiguitas kreatif, menggabungkan disiplin seni dan bisnis, dan menempatkan eksperimen sebagai metode utama belajar. Pertemuan ini membangun kesadaran tentang kompetensi unik yang dibutuhkan pelaku ekraf — mulai dari creative problem-solving hingga negosiasi lintas budaya — dan bagaimana kurikulum kursus ini dirancang untuk membangunnya.
Pertemuan ini adalah studio kreatif penuh: peserta menjalani serangkaian latihan terstruktur untuk mengaktifkan, meregangkan, dan mengelola kreativitas mereka sebagai aset bisnis. Dari neurosains kreativitas (default mode network, incubation), hingga teknik-teknik ideasi yang teruji — SCAMPER, oblique strategies, lateral thinking (de Bono), dan constraint-based creativity — semua dikemas dalam format workshop yang energik dan aplikatif.
Produk kreatif yang hebat lahir dari riset pengguna yang dalam dan iterasi yang cepat. Pertemuan ini memandu peserta membangun produk/layanan dari ide terbaik mereka menggunakan Value Proposition Canvas (Osterwalder) untuk memastikan produk benar-benar menjawab kebutuhan nyata — bukan sekadar ekspresi kreator. Peserta membangun prototipe rendah fidelitas dan mengujinya dengan calon pengguna nyata dalam sesi yang sama.
Di ekonomi kreatif, kekayaan intelektual adalah balance sheet yang tak kasat mata. Pertemuan ini membangun pemahaman praktis tentang sistem HAKI Indonesia — bukan teori hukum kering, melainkan strategi bisnis: bagaimana melindungi ide dan karya, bagaimana memonetisasi aset intelektual melalui lisensi, dan bagaimana membangun portofolio IP yang menjadi moat kompetitif bisnis kreatif Anda.
Business Model Canvas (Osterwalder & Pigneur) adalah alat yang tampak sederhana namun sangat dalam. Pertemuan ini bukan sekadar pengenalan BMC — melainkan workshop intensif di mana peserta membangun, mengkritisi, dan mempertahankan model bisnis kreatif mereka sendiri. Dengan menganalisis 20+ BMC bisnis kreatif terkemuka (Spotify, Etsy, Tokopedia, Gojek, Batik Keris, Netflix), peserta membangun intuisi tentang pola model bisnis yang berhasil di konteks ekraf.
Perekonomian digital ditopang oleh logika platform yang fundamentally berbeda dari bisnis pipeline tradisional. Pertemuan ini mengeksplorasi bagaimana bisnis kreatif dapat memanfaatkan platform economy — baik sebagai kreator di atas platform yang ada, maupun sebagai pengembang platform kreatif sendiri. Fokus khusus pada creator economy: ekosistem baru di mana individu dan komunitas kecil dapat membangun bisnis berbasis audiens.
Checkpoint tengah semester: setiap peserta/kelompok mempresentasikan model bisnis kreatif mereka dalam format "Defend Your Canvas" — 8 menit presentasi + 7 menit pertanyaan kritis dari panel. Panel terdiri dari fasilitator, sesama peserta, dan jika memungkinkan 1 praktisi ekraf yang diundang. Fokus evaluasi adalah pada kohesi internal BMC, kejelasan value proposition, dan kemampuan peserta merespons pertanyaan kritis secara argumentatif.
Keberlanjutan telah bergerak dari pinggiran ke inti strategi bisnis. Pertemuan ini membangun literasi keberlanjutan bisnis yang kritis: dari Triple Bottom Line (People-Planet-Profit) Elkington, 17 SDGs PBB, framework ESG (Environmental, Social, Governance), hingga sertifikasi B Corporation. Peserta belajar membaca tren pasar yang menunjukkan bahwa bisnis berkelanjutan bukan sekadar etika — ia adalah keunggulan kompetitif yang semakin krusial.
Ekonomi linear (ambil-buat-buang) adalah akar krisis lingkungan yang juga menjadi ancaman bisnis jangka panjang. Circular Economy (Ellen MacArthur Foundation) menawarkan alternatif yang bukan hanya etis, tetapi juga lebih efisien secara ekonomi. Pertemuan ini mengaplikasikan prinsip circular economy ke konteks bisnis ekraf secara konkret: desain produk yang dapat diperbaiki, material biologis yang dapat terurai, model take-back, dan business model berbasis layanan (product-as-a-service).
Social enterprise dan impact business adalah yang tumbuh paling cepat dalam ekosistem ekraf global. Pertemuan ini mengeksplorasi spektrum model bisnis berdampak — dari hybrid nonprofit-forprofit, social enterprise murni, hingga impact investing — dan bagaimana bisnis kreatif Indonesia dapat menggunakan model ini untuk menjawab masalah sosial nyata sekaligus membangun bisnis yang viable dan skalabel. Kunjungan virtual/fisik ke 2 social enterprise ekraf Indonesia.
Bisnis kreatif sering gagal bukan karena kurang kreatif, tetapi karena kurang memahami angka. Pertemuan ini membangun literasi keuangan bisnis yang praktis dan relevan untuk ekraf: bukan akuntansi kering, melainkan metrik yang benar-benar menentukan kesehatan bisnis kreatif. Dari unit economics (LTV, CAC, payback period), manajemen cash flow untuk bisnis musiman/proyek, hingga landscape pendanaan alternatif yang ramah ekraf.
Strategi go-to-market (GTM) yang tepat menentukan apakah produk kreatif brilian bisa menemukan audiensnya atau hilang tanpa jejak. Pertemuan ini membangun kemampuan merancang GTM yang efisien berbasis data — dari posisi pasar yang unik, pemilihan kanal distribusi yang tepat, hingga strategi konten yang membangun brand equity jangka panjang. Khusus untuk bisnis kreatif berkelanjutan: bagaimana mengkomunikasikan nilai sustainability tanpa terkesan menggurui.
Pertemuan pre-final ini adalah studio intensif penyusunan dan latihan pitch. Peserta menyatukan semua artefak yang telah dibangun sepanjang kursus — BMC, Value Proposition Canvas, Circular Economy Canvas, GTM Plan, Financial Model, Impact Measurement — ke dalam satu business plan yang koheren. Sesi diakhiri dengan latihan pitch berpasangan menggunakan format "investor simulation" untuk mempersiapkan Pitch Day final.
Creative Economy Demo Day adalah penutup kursus yang dirancang menyerupai lingkungan nyata: panel evaluator terdiri dari fasilitator, praktisi ekraf aktif, investor impact, dan jika memungkinkan representasi media ekraf. Setiap peserta mempresentasikan business plan mereka dalam format pitch investasi formal, lalu menjalani sesi tanya jawab kritis. Bukan sekadar penilaian akademik — ini adalah simulasi nyata dari perjalanan yang akan mereka jalani setelah kursus.